Selasa, 04 April 2017

KONSERVASI KAWASAN KOTA TUA

KONSERVASI ARSITEKTUR
KAWASAN KOTA TUA


NADIA LISTIARINI
26313279
4TB06

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017




BAB I
PENDAHULUAN



Gambar 1.1. Kawasan Kota Tua
Sumber: https://www.initempatwisata.com

Sejarah berdirinya kota Jakarta – Kota Tua awalnya bermula dengan Jakarta yang masih berupa sebuah dermaga kecil di muara Kali Ciliwung sekitar abad ke-16. Meski begitu, sebenarnya sejarah Jakarta sudah dimulai jauh sebelumnya karena Jakarta dan area sekitarnya merupakan tempat pemukiman warga selama berabad-abad tepatnya sejak abad ke-4 sebelum masehi. Catatan sejarah yang paling awal ditemukan di Jakarta juga merupakan prasasti paling tua dalam sejarah Indonesia. Area pantainya juga diakui sebagai dermaga, dan dijadikan pemukiman umat Hindu pada abad itu sebagai bagian dari kerajaan India Tarumanegara. Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Tugu Jakarta Utara juga mengonfirmasi bahwa daerah yang kini merupakan bagian dari Jakarta modern dulunya adalah tempat pemukiman warga.
Ketika Tarumanegara mulai kehilangan kekuatan, daerah Jakarta jatuh ke tangan Kerajaan Sunda. Dermaga Sunda ini juga dikenal sebagai sebuah dermaga yang strategis dan makmur, dipadukan lagi dengan lada dari Sunda yang dikenal karena kualitasnya yang luar biasa. Orang-orang di area tersebut semua bekerja di bidang agrikultur dan rumah mereka juga terbuat dari tumpukan kayu. Salah satu pelabuhan yang ada di mulut sungai diberi nama Sunda Kalapa/Sunda Kelapa, seperti yang tertulis dalam Hindu Bujangga Manik, sebuah manuskrip dari lontar milik seorang biarawan dan salah satu sisa dari literatur Sunda Kuno. Pelabuhan tersebut adalah milik Pakuan Pajajaran (yang sekarang menjadi Bogor), ibu kota dari kerajaan Sunda. Pada abad ke-14 masehi, pelabuhan ini menjadi pelabuhan dagang yang penting bagi pihak kerajaan. Pada abad ke-16, penjelajah dari Eropa juga sering menyebut sebuah kota yang dipanggil Kalapa, sebuah pelabuhan utama dari kerajaan Hindu Sunda. Pihak Portugis kemudian menyimpam Luso Sundanese padrao, sebuah perjanjian politik dan ekonomi dengan kerajaan Sunda, dan Portugis mulai membuat tempat tinggal mereka sendiri di Jawa.
Demi mencegah Portugis memiliki kekuatan di Jawa, Fatahillah dikirim oleh kerajaan Demak untuk menyerang mereka di Sunda Kelapa pada tahun 1527, dan penyerang tersebut sukses, membuat Sunda Kelapa jatuh ke tangan Demak dan berubah namanya menjadi Jayakarta. Sejarah berdirinya kota Jakarta – Kota Tua kemudian memasuki babak baru ketika ia menjadi bagian dari Kesultanan Banten yang ada di bagian barat Jayakarta. Pada masa ini, banyak saudagar dari Amsterdam yang melakukan ekspedisi menuju kepulauan east Indie yang ada di bawah komando Cornelis de Houtman. Ekspedisi ini tiba di Bantam (sekarang menjadi Banten) dan Jayakarta pada tahun 1596 dengan niatan awal bertukar rempah-rempah, sama seperti bangsa Portugis. Pada tahun 1602, pelayaran Inggris yang dikomandani oleh Sir James Lancaster tiba di Aceh dan berlayar ke Bantam, dimana ia kemudian diperbolehkan untuk membangun pos perdagangan sebagai pusat jual-beli Inggris di Indonesia pada tahun 1682.
Pada tahun 1610, saudagar Belanda mulai diperbolehkan untuk membangun gudang yang ada di seberang rumah Pangeran Jayawikarta. Sayangnya, pada tahun 1618 hubungan yang kurang baik antara Jayawikarta dan Belanda mulai memburuk, dan pasukan Jayawikarta mulai menyerang benteng Belanda yang melindungi 2 gudang bernama Nassau dan Mauritius. Pada tanggal 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen mulai memimpin pasukan Belanda untuk membakar kota Jayakarta, yang berhasil dilakukan hanya menyisakan Padrao Sunda Kelapa. Hal ini baru diketahui ketika dilakukan penggalian di daerah Kota.
Kota Jakarta mulai terbentuk ketika Batavia mulai melebar menuju bagian barat dari Ciliwung, di atas reruntuhan Jayakarta. Kota ini didesain dengan gaya Belanda-Eropa, lengkap dengan benteng yang diberi nama Kasteel Batavia, dinding kota, dan kanal-kanal. Kota Batavia yang baru ini selesai dibangun pada tahun 1650 dan menjadi ibukota dari VOC di daerah East Indies. Kanal-kanal yang dibuat perlahan mulai terisi penuh karena penyakit tropis yang ada di bagian dalam dinding kota karena sistem sanitasi yang luar biasa buruk. Kota ini akhirnya mulai kembali melebar pada tahun 1870 didorong dengan banyaknya orang yang ingin pindah dari area Kota, menuju area Weltevreden (sekarang Lapangan Merdeka).
Jakarta akhirnya mulai berkembang dengan selesainya pendudukan Jepang, dan pada tahun 1972, Gubernur Jakarta pada masa itu yang bernama Ali Sadikin mengeluarkan perintah untuk secara resmi menjadikan daerah Kota Tua sebagai situs warisan sejarah Indonesia, agar paling tidak bisa melindungi bangunan yang tersisa di sana. Beberapa saat belakangan ini juga mulai aktif lagi beberapa badan sosial yang berencana merevitalisasi daerah-daerah Kota Tua, sehingga dapat menjadi daerah sejarah yang baik.




BAB II
TELAAH PUSTAKA

Konservasi secara umum diartikan pelestarian namun demikian dalam khasanah para pakar konservasu ternyata memiliki serangkaian pengertian yang berbeda-beda implikasinya. Menurut Adishakti (2007) istilah konservasi yang biasa digunakan para arsitek mengacu pada Piagam dari International Council of Monuments and Site (ICOMOS) tahun 1981 yaitu : Charter for the Conservation Places of Cultural Significance, Burra, Australlia. Piagam ini lebih dikenal dengan Burra Charter.
Dalam Burra Charter konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agara makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Pengertian ini sebenarnya perlu dipeluas lebih spesifik yaitu pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosail atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja.
Kegiatan konservasi antara lain bisa berbentuk (a) preservasi, (b) restorasi, (C) replikasi, (d) rekonstruksi, (e) revitalisasi dan/atau penggunaan untuk fungsi baru suatu asset masa lalu, (f) rehabilitasi. Aktivitas tersebut tergantung dengan kondisi, persoalan, dan kemungkinan yang dapat dikembangkan dalam upaya pemeliharaan lebih lanjut. Masyarakat awam sering keliru bahwa pelestarian bangunan bersejarah diarahkan menjadi dead monument (monument statis) tetapi sebenarnya bisa dikembangkan menjadi life monument yang bermanfaat fungsional bagi generasi masa sekarang.
Dalam kaitannya dengan kawasan Kota Tua Jakarta, konservasi yang akan dilakukan adalah dengan cara memadukan konsep restorasi/rehabilitasi dengan konsep rekonstruksi. Konsep restorasi/rehabilitasi yaitu upaya mengembalikan kondisi fisik bangunan seperti sediakala dengan membuang elemen-elemen tambahan serta memasang kembali elemen-elemen orisinil yang telah hilang tanpa menambah bagian baru. (Burra Charter article 1.7). Sedangkan konsep rekonstruksi adalah Upaya mengembalikan atau membangun kembali semirip mungkin dengan penampilan orisinil yang diketahui (Burra Charter, article 1.8).
Tujuan dari penggabungan konsep konservasi tersebut adalah mengembalikan bentuk fisik bangunan yang ada di kawasan Kota Tua sehingga menjadi bangunan yang layak dipakai tanpa meninggalkan wujud aslinya sehingga nuansa colonial tidak hilang dari bangunan-bangunan di kawasan Kota Tua. Selain bentuk fisik yang di rekonstruksi, dalam upaya konservasi kawasan Kota Tua, upaya untuk mengembalikan fungsi masing-masing bangunan. Sehingga diharapkan, aktivitas fungsi gedung di kawasan Kota Tua dapat meningkat dan diisi oleh berbagai fasilitas seni, budata, pendidikan, ekonomi, dan industri kreatif.

BAB III
GAMBARAN KAWASAN DAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA

3.1. Kondisi Eksisting Kawasan
a. Museum Fatahillah




Gambar 3.1. Museum Fatahillah
(sumber: data pribadi)

Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta.  Bangunan ini dahulu merupakan balai kota Batavia yang dibangun pada tahun 1707-1712 atas perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. Arsitektur bangunannya bergaya Neoklasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.
Tata ruang dalam Museum Fatahillah dipersiapkan untuk menampilkan cerita berdasarkan kronologis sejarah Jakarta dalam bentuk display, diperlukan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan ditunjang secara grafis dengan menggunakan foto-foto, gambar-gambar dan sketsa, peta dan label penjelasan agar mudah dipahami dalam kaitannya dengan faktor sejarah dan latar belakang sejarah Jakarta.dengan beberapa fasilitas ruang antara lain: Perpus, kantin museum, ruang sinema, souvenir shop,ruang pertemuan, ruang pamer, taman dalam.

Serta aktivitas yang dapat diikuti seperti:
1. Wisata Jakarta Lama, minimal 20 Orang
2. Wisata Night at Museum, minimal 20 Orang
3. Workshop Sketsa Gedung Tua, minimal 10 Orang
4.Nonton
Bareng film-film Jadul, minimal 20 Orang
5. Pentas Seni Ala Jakarta

b. Gedung Jasindo














Gambar 3.2. Gedung Jasindo
(Sumber: https://static.panoramio.com.storage.googleapis.com/)
 


Gedung Jasindo adalah bangunan bekas gedung NV West-Java Handel-Maatschappij (WEVA) atau Kantoorgeouwen West-Java Handel-Maatschappij, yang dibangun pada tahun 1912. Desain bangunan ini dilakukan oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cupers te Amsterdam. Gedung tersebut sekarang dimiliki oleh PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), namun sudah tidak dipergunakan lagi lantaran kondisi gedung sudah mengkhawatirkan. Pada bagian atapnya mengalami pelapukan. Setelah gedung dikosongkan oleh PT Jasindo, gedung tersebut dimanfaatkan untuk hiburan biliar. Sebagian lagi digunakan untuk berjualan pakaian, rokok, dan minuman ringan. Kondisi ini menyebabkan bangunan tersebut semakin tidak terurus dan sangat memprihatinkan karena dibiarkan terbengkelai oleh PT Jasindo tanpa ada pemeliharaan dan perbaikan. Atap di lantai 3 sisi selatan gedung Jasindo telah runtuh. Dinding sisi barat juga telah rubuh hingga separuh. Terdapat juga sedikit retak di kolom pada sisi barat dinding yang telah roboh. Pada dinding-dinding baik di sisi barat dan timur serta beberapa joint antara dinding dan tembok terlihat lapisan dinding (plaster) yang telah terkelupas. Kondisi jendela yang terdapat pada bangunan terlihat mulai lapuk pada kusen dengan beberapa kaca jendela telah lepas atau pecah. Di bawah jendela terdapat lubang angin dengan dua pola bentuk yaitu persegi dan bujur sangkar yang berornamen. Terdapat bangunan atap darurat di atas tangga. Terlihat pula vegetasi yang tumbuh di atap bangunan yang masih tertinggal.
Ruangan yang terdapat pada lantai 3 menggunakan ubin dengan paduan antara warna merah, oranye dan ubin polos. Pola yang digunakan dalam menyusun ubin berupa persegi panjang membentuk huruf L. Terdapat dua pintu besar pada area masuk bangunan. Pada sisi utara ruangan terdapat ruang yang merupakan bekas lift. Plat lantai dan balok bangunan terbuat dari beton dan pada kondisi terkini terlihat bahwa lapisan terluar beton telah terkelupas sehingga terlihat tulangan besi yang digunakan. Sedangkan kolom terbuat dari batu bata yang disusun dengan pola memanjang dan melintang dan bergantian pada tiap baris.
Kawasan Kota Tua saat ini sedang direvitalisasi agar dapat dikembangkan sebagai Zona Ekonomi Khusus oleh JOTRC (Jakarta Old Town Revitalization Corporation) dan juga sebagai destinasi wisata nasional oleh UPK (Unit Pengembangan KKawasan) Kota Tua. JOTRC merupakan konsorsium swasta yang didirikan sekitar tiga tahun lalu oleh beberapa orang yang merasa prihatin terhadap upaya pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta yang dikesankan berjalan di tempat.

c. Museum Wayang







Gambar 3.3. Museum Wayang
(Sumber: http://wisatanesia.co/wp-content/uploads/2014/10)
 
 



Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan dibangun pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.
d. Museum Mandiri

Gambar 3.4. Museum Mandiri
(Sumber: http://1.bp.blogspot.com/-GV0tGIZT)
 
 




Berdiri tanggal 2 Oktober 1998. Museum yang menempati area seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31 Desember 1968, gedung tersebut pun beralih menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri.
Gedung Museum Bank Mandiri (ex-Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM)) dirancang oleh 3 orang arsitek belanda yaitu J.J.J de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde. Gedung ini mulai dibangun tahun 1929 dan pada tanggal 14 Januari 1933 dibuka secara resmi Oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden NHM ke-10. Gedung ex-NHM ini tampak kokoh dan megah dengan arsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik

e. Gedung BNI










Gambar 3.5. Gedung BNI
(Sumber: http://patainanews.com/wp-content/uploads/2017/02/bni.jpg)
 
 




Gedung ini  dibangun tahun 1960 hasil rancangan arsitek F. Silaban, seorang arsitek Indonesia yang banyak merancang bangunan monumental di Jakarta saat itu. Gedung ini banyak menggunakan permainan bidang untuk mengantisipasi curah hujan dan sinar matahari yang banyak terdapat di negara tropis.


f. Stasiun Beos Kota Tua









Gambar 3.6. Stasiun Beos
(Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title)
 
 



Stasiun ini, pada jaman kolonial ada dua, yaitu Batavia NIS (Batavia Noord) dan Batavia BOS (Batavia Zuid). Setelah kedua stasiun tersebut dibeli oleh pemerintah kolonial, perusahaan kereta api negara Staatsspoor en Tramwegen, berencana untuk membangun stasiun besar baru di atas lahan Stasiun Batavia BOS yang mulai ditutup sejak tahun 1923. Sebagai gantinya, maka stasiun Batavia Noord eks-NISM yang berjarak 200 meter ke arah Utara sebagai stasiun utama untuk melayani penumpang. Tahun 1926, stasiun eks-BOS mulai dibongkar. Pembangunan ini adalah proyek dari pembangunan gedung stasiun milik negara, maka Burgerlijke Openbare Werken, (Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda), terlibat dalam pembangunannya.



BAB IV
USULAN PENANGANAN PELESTARIAN

Dalam kaitannya dengan kawasan Kota Tua Jakarta, konservasi yang akan dilakukan adalah dengan cara memadukan konsep restorasi/rehabilitasi dengan konsep rekonstruksi. Tujuan dari penggabungan konsep konservasi tersebut adalah mengembalikan bentuk fisik bangunan yang ada di kawasan Kota Tua sehingga menjadi bangunan yang layak dipakai tanpa meninggalkan wujud aslinya sehingga nuansa colonial tidak hilang dari bangunan-bangunan di kawasan Kota Tua. Selain bentuk fisik yang di rekonstruksi, dalam upaya konservasi kawasan Kota Tua, upaya untuk mengembalikan fungsi masing-masing bangunan. Sehingga diharapkan, aktivitas fungsi gedung di kawasan Kota Tua dapat meningkat dan diisi oleh berbagai fasilitas seni, budaya, pendidikan, ekonomi, dan industri kreatif.
Konsep restorasi yang dilakukan di kawasan kota tua yaitu mengembalikan fungsi bangunan-bangunan tua yang ada di kawasan kota tua. Bangunan-bangunan tua yang ada di kawasan kota tua yang hampir rubuh dapat difungsikan kembali menjadi gedung yang bernilai ekonomi. Contohnya seperti beberapa gedung yang sudah di restorasi seperti Toko Merah dan bangunan yang dulunya milik perusahaan Rotterdam Lloyd yang difungsikan menjadi coffee shop dan museum kopi serta restoran. Kehidupan ekonomi di dalamnya dapat membantu keberlangsungan bangunan. Restorasi yang dapat dilakukan selain mengubah menjadi gedung yang bernilai ekonomi, dapat juga menjadi gedung yang digunakan sebagai acara konferensi atau pertunjukan yang dapat menunjang turisme.
Tindakan rekonstruksi pada bangunan Museum Fatahillah dilakukan karena bangunan atau lingkungan yang hancur karena bencana alam, namun rekonstruksi pada bangunan tersebut dapat dilakukan dengan membangun kembali dengan menggunakan material yang masih dapat digunakan. Tidak hanya hancur karena bencana alam, kerusakan yang terjadi karena terbengkalai pun dapat diperbaiki dengan bahan bangunan atau material yang terselamatkan dan masih dapat digunakan atau dengan penambahan bahan bangunan baru demi menciptakan bangunan Museum Fatahillah yang sesuai fungsi dan memenuhi persyaratan teknis.  







DAFTAR PUSTAKA






Selasa, 03 Januari 2017

ARSITEKTUR MODERN

NADIA LISTIARINI
4TB06
KRITIK ARSITEKTUR – ARSITEKTUR MODERN - KRITIK ARSITEKTUR DESKRIPTIF

VILLA SAVOYE
(LE CORBUSIER, 1928)





Villa Savoye ( French pronunciation : [ savwa ] ) adalah sebuah villa modernis di Poissy , di pinggiran kota Paris , Perancis. Ini dirancang oleh arsitek Swiss Le Corbusier dan sepupunya , Pierre Jeanneret , dan dibangun antara tahun 1928 dan 1931 dengan menggunakan beton bertulang .
Sebuah manifesto dari Le Corbusier ” lima poin ” arsitektur baru , villa merupakan perwakilan dari basis arsitektur modern , dan merupakan salah satu contoh yang paling mudah dikenali dan terkenal dari gaya internasional .
Rumah itu awalnya dibangun sebagai negara mundur pada perintah dari keluarga Savoye . Selama Perang Dunia II keluarga Yahudi Savoye dikirim ke kamp-kamp konsentrasi Nazi yang mengambil alih rumah dan menggunakannya untuk penyimpanan. Setelah dibeli oleh sekolah, diteruskan menjadi milik negara Perancis pada tahun 1958 , dan setelah bertahan beberapa rencana pembongkaran, itu ditetapkan sebagai monumen sejarah resmi Perancis pada tahun 1965 (kejadian langka , seperti Le Corbusier masih hidup pada waktu itu).
The Villa Savoye dirancang oleh Le Corbusier sebagai paradigma "mesin sebagai rumah", sehingga fungsi kehidupan sehari-hari di dalam menjadi penting untuk desain. Gerakan mobil untuk memasuki interior rumah (sebuah konsep yang empassioned Le Corbusier selama bertahun-tahun) merupakan pemicu untuk desain bangunan. Konsep ini juga mencakup fakta bahwa perumahan ini dirancang sebagai sebuah benda yang diduga mendarat di lanskap, benar-benar otonom dan dapat ditempatkan di manapun di dunia. Arsitektur mengikuti gaya pesawat terbang, mobil dan kapal, dengan tujuan lantai dasar juga naik ide ini, dan kemandirian Villa dari kebun nya, dan diakui sebagai salah satu poin penting dari generasi pertama Arsitektur Internasional. memajukan Bahan yang digunakan di Villa Savoye adalah bahan membosankan, bahan tersebut digunakan selama ini dalam membangun rumah bagi warga Paris kelas bawah
Villa Savoye mungkin bangunan Corbusier terbaik diketahui dari tahun 1930-an, dan memiliki pengaruh yang sangat besar pada modernisme internasional. Bangunan ini dirancang mencitrakan lambang "Five Points", prinsip-prinsip dasar dalam estetika arsitektur barunya:
·        Dukungan dari permukaan tanah pilotis, mengangkat bangunan dari bumi dan memungkinkan sebuah kontinuitas diperpanjang taman bawah.
·        Atap fungsional, berfungsi sebagai taman dan teras, reklamasi alam tanah yang ditempati oleh bangunan.
·        Denah bebas, dibebaskan dari beban dinding, memungkinkan dinding untuk ditempatkan secara bebas dan hanya di mana estetis diperlukan.
·        Jendela horisontal panjang, memberikan penerangan dan ventilasi.
·     Rancangan fasad yang bebas, berperan hanya sebagai kulit dinding dan jendela dan tidak dibatasi oleh pertimbangan beban.
Tidak seperti kota villa sebelumnya, Corbusier mampu dengan teliti merancang keempat sisi dari Villa Savoye dalam menanggapi pandangan dan orientasi matahari. Di lantai dasar ditempatkan utama pintu masuk aula, jalan dan tangga, garasi, sopir dan kamar pembantu. Pada lantai pertama kamar tidur utama, anak itu tidur, kamar tidur tamu, dapur, salon dan teras eksternal. salon berorientasi ke timur selatan sementara teras menghadap ke timur tersebut. Kamar tidur anak menghadapi barat utara dan dapur dan layanan teras berada di barat selatan. Pada tingkat lantai dua adalah serangkaian ruang patung yang dibentuk solarium.

Rencana itu ditetapkan dengan menggunakan rasio utama Golden Section:. dalam hal ini persegi dibagi menjadi enam belas bagian yang sama, diperpanjang pada dua sisi untuk menggabungkan fasad memproyeksikan dan kemudian dibagi lagi untuk memberikan posisi jalan dan pintu masuk.
Empat kolom di lorong pintu masuk yang tampaknya mengarahkan pengunjung menuju ramp, yang dapat dilihat dari hampir di seluruh bagian rumah, lalu terus naik ke area lantai pertama dan salon sebelum melanjutkan eksternal dari lantai pertama atap teras sampai ke solarium lantai dua. Sepanjang karirnya Corbusier tertarik dalam membawa perasaan kesucian ke dalam tindakan hunian dan bertindak seperti mencuci dan makan. Pada Villa Savoye kesan bersih diwakili baik oleh wastafel di lorong pintu masuk dan perayaan sifat menyehatkan matahari di solarium di atap yang diberikan signifikansi dengan menjadi puncak dari mendaki ramp.

Corbusier membentuk sejumlah fungsi di sekitar rumah, baik di dalam dan luar. Pada dua ketinggian rata dengan wajah façade dan menyiratkan berat dan dukungan, tetapi pada sisi yang lebih pendek diatur kembali memberikan efek mengambang yang menekankan perasaan horisontal rumah.

Villa Savoye menggunakan pita jendela horisontal yang ditemukan di vila-vila sebelumnya. Tidak seperti sezamannya, Corbusier sering memilih untuk menggunakan jendela kayu daripada yang logam. Ia telah mengemukakan bahwa ini adalah karena ia tertarik pada kaca untuk properti planar dan bahwa posisi set-belakang kaca dalam bingkai kayu memungkinkan façade yang akan dilihat sebagai rangkaian pesawat paralel.

Sumber : https://en.m.wikipedia.org/wiki/Villa_Savoye






Rabu, 09 November 2016

Kritik Arsitektur Masjid Istiqlal

NADIA LISTIARINI
4TB06
KRITIK ARSITEKTUR
METODE KRITIK DESKRIPTIV – DEPICTIVE CRITISM (GAMBARAN BANGUNAN)
 


MASJID ISTIQLAL

Masjid Istiqlal didirikan pada 24 Agustus 1951. Pembangunan masjid ini di prakarsai oleh Presiden R.I pada saat itu yaitu Ir. Soekarno. Bangunan ini berdiri diatas tanah seluas 12 Hektar, sedangkan luas bangunannya sendiri yaitu 7 Hektar dengan luasan lantai 72.000 m2 dan luas atap 21.000 m2. Masjid yang megah ini adalah bangunan berlantai dua.  Lantai pertama untuk perkantoran, ruang pertemuan, instalasi AC sentral dan listrik, kamar mandi, toilet dan ruang tempat wudhu. Lantai dua, untuk salat yang terdiri dari ruang salat utama dan teras terbuka yang luas guna untuk menampung jemaah yang melimpah terutama pada saat salat Idul Fitri dan Idul Adha. Lantai utama yang disediakan untuk ruang sholat baik Rawatib ataupun sholat sunnat lainnya terletak di gedung utama dengan daya tampung 61.00 orang jamaah. Di bagian depan terdapat Mihrab tempat di mana imam memimpin sholat jamaah, dan disebelah kanan mihrab terdapat mimbar yang ditinggikan.

 Sebagai masjid negara Indonesia, Masjid Istiqlal diharapkan dapat menampung jamaah dalam jumlah yang besar. Karena itu arsitekturnya menerapkan prinsip minimalis, dengan mempertimbangkan keberadaannya di kawasan beriklim tropis. Masjid dirancang agar udara dapat bebas bersirkulasi sehingga ruangan tetap sejuk, sementara jemaah terbebas dari panas matahari dan hujan.  Ruangan salat yang berada di lantai utama dan terbuka sekelilingnya diapit oleh plaza atau pelataran terbuka di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang dengan bukaan lowong yang lebar di antaranya, dimaksudkan untuk memudahkan sirkulasi udara dan penerangan yang alami. Masjid ini bergaya arsitektur Islam modern internasional, yaitu menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana seperti kubus, persegi, dan kubah bola, dalam ukuran raksasa untuk menimbulkan kesan agung dan monumental. Bahannya pun dipilih yang besifat kokoh, netral, sederhana, dan minimalis, yaitu marmer putih dan baja antikarat (stainless steel). Ragam hias ornamen masjid pun bersifat sederhana namun elegan, yaitu pola geometris berupa ornamen logam krawangan (kerangka logam berlubang) berpola lingkaran, kubus, atau persegi. Ornamen-ornamen ini selain berfungsi sabagai penyekat, jendela, atau lubang udara, juga berfungsi sebagai unsur estetik dari bangunan ini. Krawangan dari baja ini ditempatkan sebagai jendela, lubang angin, atau ornamen koridor masjid. Pagar langkan di tepi balkon setiap lantainya serta pagar tangga pun terbuat dari baja antikarat. Langit-langit masjid dan bagian dalam kubah pun dilapisi kerangka baja antikarat. Dua belas pilar utama penyangga kubah pun dilapisi lempengan baja antikarat.
Adanya dua bangunan masjid; yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping (berfungsi sebagai tangga, ruang tambahan dan pintu masuk Al Fattah), serta dua kubah yaitu kubah utama dan kubah pendamping, melambangkan angka "2" atau dualisme yang saling berdampingan dan melengkapi; langit dan bumi, kepentingan akhirat dan kepentingan duniawi, bathin dan lahir, serta dua bentuk hubungan penting bagi muslim yaitu Hablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhannya) dan Hablum minannaas (hubungan manusia dengan sesamanya). Hal ini sesuai dengan sifat agama Islam yang lengkap, mengatur baik urusan keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Rancangan interior masjid ini sederhana, minimalis, dengan hiasan minimal berupa ornamen geometrik dari bahan baja antikarat. Sifat gaya arsitektur dan ragam hias geometris yang sederhana, bersih dan minimalis ini mengandung makna bahwa dalam kesederhanaan terkandung keindahan. Pada dinding utama yang menghadap kiblat terdapat mihrab dan mimbar di tengahnya. Pada dinding utama terdapat ornamen logam bertuliskan aksara Arab Allah di sebelah kanan dan nama Muhammad di sebelah kiri, di tengahnya terdapat kaligrafi Arab Surah Thaha ayat ke-14.

Masjid Istiqlal mempunyai kubah besar yang menjadi ciri khasnya apabila dilihat dari kejauhan. Kubah ini sebagai simbol islami suatu masjid. Kubah yang begitu kokoh dengan diameter 45 meter, terbuat dari kerangka baja anti karat dengan berat 86 ton, sementara lapisan luarnya di lapisi dengan keramik.  Diameter 45 meter merupakan simbol penghormatan dan rasa syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945 sesuai dengan nama Istiqlal itu sendiri. Bagian bawah sekeliling kubah terdapat kaligrafi Surat Yassin yang ditulis oleh K.H Fa'iz seorang Khatthaath senior dari Jawa Timur. Dari dalam kubah di topang oleh 12 pilar berdiameter 2,6 meter dengan tinggi 60 meter, 12 buah pilar ini merupakan simbol angka kelahiran nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 20 April 571 M. Terlihat jelas bahwa segala pengukuran yang terdapat di ornament ataupun detail Masjid Istiqlal mempunyai simbol dan makna sendiri sehingga desainnya sangat terukur dan tidak sembarangan.

Masjid Istiqlal dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, dapat menampung ribuan jemaat untuk solat. Ruangan salat yang terkenal dengan kemegahannya dan kenyamanannya terletak di lantai pertama, tepat diatas lantai dasar. Lantai dasar masjid seluruhnya ditutupi oleh Marmer sehingga terasa sejuk dan dingin ketika menginjak lantai Masjid Istiqlal. Di lantai dasar terdapat ruang perkantoran, ruang serba guna, dan ruang penunjang masjid lainnya. Perletakan ruang-ruang tersebut dibawah ruang ibadah mencerminkan penghormatan yang tinggi kepada proses peribadahan umat Islam.

Selain itu, bagian lain dari masjid Istiqlal adalah menara masjid yang memiliki ketinggian 96 meter. Bangunan menara meruncing ke atas ini berfungsi sebagai tempat Muadzin mengumandangkan adzan. Di atasnya terdapat pengeras suara yang dapat menyuarakan adzan ke kawasan sekitar masjid. Menara megah tersebut melambangkan keagungan Islam, dan kemuliaan kaum muslimin. Keistimewaan lainnya, menara yang terletak di sudut selatan masjid, dengan ketinggian 6.666 cm ini dinisbahkan dengan jumlah ayat-ayat Al-Quran. Pada bagian ujung atas menara, berdiri kemuncak (pinnacle) dari besi baja yang menjulang ke angkasa setinggi 30 meter sebagai simbol dari jumlah juz dalam Al-Quran. Menara dan kemuncak baja ini membentuk tinggi total menara sekitar 90 meter. Puncak menara yang meruncing dirancang berlubang-lubang terbuat dari kerangka baja tipis. Angka 6.666 merupakan simbol dari jumlah ayat yang terdapat dalam AL- Quran, seperti yang diyakini oleh sebahagian besar ulama di Indonesia.